Setitik Waktu, Sejuta Kenangan: Sebuah Harmoni Karya dari Tangan Anak-Anak Hebat

Diposting pada November 05, 2026

Setitik Waktu, Sejuta Kenangan: Sebuah Harmoni Karya dari Tangan Anak-Anak Hebat

Ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika pertama kali membuka dan membaca buku Setitik Waktu, Sejuta Kenangan, sebuah antologi karya siswa-siswi SDIT At-Taubah Batam. Pada awalnya saya membayangkan akan menemukan kumpulan tulisan anak-anak tentang kegiatan mereka di sekolah. Namun setelah membaca halaman demi halaman, saya justru seperti diajak memasuki sebuah dunia yang sangat hidup, dunia anak-anak yang penuh rasa ingin tahu, kegembiraan, persahabatan, keberanian, pengalaman, dan mimpi tentang masa depan. 


Buku ini bukan sekadar kumpulan tulisan. Buku ini adalah rekaman perjalanan tumbuh anak-anak, yang dengan bahasa mereka sendiri mencoba mengabadikan pengalaman-pengalaman kecil yang bagi mereka ternyata memiliki arti yang begitu besar.



Saya membaca kisah tentang Mabit yang Menyenangkan, Outbound Oasis Waterpark, Penggalan Kisah di Sekolah, Ada Rindu di Sini, Cahaya di Balik Mabit, Bahagia Bermain, Aku dan Hobiku, Sertifikat Pertama di At-Taubah, Mabit yang Berkesan, Kelasku yang Hebat, dan Sahabat Terbaik di Sekolah. Dari judul-judul sederhana tersebut saja sudah terasa bahwa anak-anak sedang menyimpan begitu banyak cerita dalam perjalanan sekolah mereka. Mereka menulis tentang apa yang mereka alami, apa yang mereka sukai, siapa yang mereka temui, apa yang membuat mereka bahagia, dan pengalaman apa yang ingin mereka simpan dalam ingatan. 


Di sinilah saya menemukan sesuatu yang sangat berharga: anak-anak ternyata memiliki cara sendiri untuk mengabadikan masa kecilnya. Mereka tidak menulis dengan bahasa yang rumit. Mereka menulis dengan kepolosan. Mereka tidak sedang berusaha menunjukkan bahwa mereka sudah menjadi penulis hebat. Mereka hanya sedang bercerita. Tetapi justru dari cerita-cerita sederhana itulah muncul keindahan yang sangat jujur.


Semakin jauh saya membaca, semakin terasa bahwa buku ini seperti sebuah perjalanan panjang. Ada cerita tentang tahfiz, mukhayyam, pengalaman berkemah, persahabatan, kegiatan ekstrakurikuler, perjuangan melawan rasa malas, pengalaman mengikuti perlombaan, study tour, outbound, hingga perjalanan ke Malaysia dan Singapura. Ada pula cerita tentang kesalahan yang ingin diperbaiki, kegagalan, perjuangan, pengalaman belajar, dan keberanian untuk mencoba kembali. 


Dari sana saya melihat bahwa sekolah bagi anak-anak ini bukan hanya sebuah tempat untuk belajar membaca, menulis, berhitung, dan mengerjakan tugas. Sekolah telah menjadi ruang kehidupan. Di dalamnya mereka belajar berteman, bekerja sama, berkompetisi, menghadapi tantangan, mengenal lingkungan baru, mengalami kegembiraan, merasakan kekecewaan, belajar dari kesalahan, dan menemukan keberanian untuk melangkah lebih jauh.


Membaca buku ini membuat saya seolah-olah tidak sedang membaca sebuah buku, tetapi sedang menyaksikan sebuah festival besar kehidupan anak-anak SDIT At-Taubah. Setiap tulisan terasa seperti sebuah panggung. Di satu panggung ada anak yang sedang bercerita tentang sahabatnya. Di panggung yang lain ada anak yang sedang menceritakan pengalaman outbound. 


Di panggung berikutnya ada cerita tentang mukhayyam, tahfiz, study tour, perlombaan, kelas, guru, permainan, perjalanan, dan berbagai kegiatan sekolah. Ada panggung yang penuh tawa, ada yang mengundang senyum, ada yang membuat kita terharu, dan ada pula yang memperlihatkan bagaimana seorang anak mulai memahami bahwa dalam kehidupan tidak semua hal berjalan sesuai harapan.


Dan ketika semua cerita itu dikumpulkan dalam satu buku, saya melihat sebuah harmoni yang luar biasa indah.


Harmoni itu tercipta dari tangan-tangan kecil yang hari ini mungkin masih belajar menyusun kalimat, tetapi kelak bisa jadi akan menjadi penulis, guru, ilmuwan, pengusaha, pemimpin, profesional, seniman, teknolog, atau tokoh-tokoh yang memberikan kontribusi bagi bangsa. Kita tidak pernah tahu sejauh mana perjalanan mereka kelak. Namun melalui buku ini, kita dapat melihat satu hal yang sangat penting: mereka telah belajar untuk berani berkarya sejak dini.


Bagi saya, keberanian itu jauh lebih besar maknanya daripada sekadar kemampuan menghasilkan sebuah buku.


Sebab sebuah karya pertama selalu memiliki nilai sejarah bagi penciptanya. Mungkin beberapa tahun dari sekarang, anak-anak ini sudah tumbuh menjadi remaja dan kemudian dewasa. Mereka mungkin sudah lupa sebagian besar kegiatan yang mereka lakukan di sekolah. 


Mereka mungkin sudah tidak mengingat secara detail siapa yang duduk di samping mereka ketika mengikuti sebuah kegiatan, bagaimana suasana ketika outbound, bagaimana rasanya mengikuti perlombaan, atau bagaimana keseruan perjalanan study tour. Tetapi ketika mereka membuka kembali buku ini, semua kenangan itu akan kembali hadir.


Mereka akan bertemu kembali dengan dirinya sendiri.


Mereka akan melihat bagaimana dahulu mereka berpikir, bagaimana mereka memandang sahabat, sekolah, guru, perjalanan, keberhasilan, bahkan kegagalan. Mereka akan tersenyum membaca tulisan sendiri. Mungkin mereka akan tertawa karena menemukan kata-kata yang sederhana. Mungkin mereka akan terharu karena menyadari betapa cepat waktu berlalu. Dan pada saat itulah mereka akan memahami bahwa buku ini bukan sekadar buku yang pernah diterbitkan ketika mereka masih duduk di bangku sekolah dasar.


Buku ini adalah jejak masa kecil mereka.



Saya melihat optimisme yang kuat dalam karya-karya anak-anak ini. Di balik cerita tentang kegiatan sekolah yang tampaknya sederhana, tersimpan semangat untuk tumbuh dan menjadi lebih baik. Mereka bercerita tentang pengalaman, tetapi pada saat yang sama mereka sedang belajar membangun mimpi. 


Mereka melihat dunia dengan rasa ingin tahu yang besar. Mereka berani mencoba sesuatu yang baru. Mereka menikmati kebersamaan. Mereka belajar dari pengalaman. Mereka bahkan mulai memahami bahwa keberhasilan membutuhkan usaha dan bahwa kegagalan bukan alasan untuk berhenti.


Bagi saya sebagai Ketua Dewan Pendidikan Kota Batam, inilah salah satu wajah pendidikan yang sangat ingin kita tumbuhkan.


Pendidikan bukan hanya tentang angka yang tertulis di rapor. Pendidikan juga tentang pengalaman yang tertanam dalam ingatan. Pendidikan bukan hanya tentang seberapa banyak materi yang mampu dihafalkan seorang anak. Pendidikan juga tentang seberapa banyak keberanian, karakter, kreativitas, empati, kemandirian, dan rasa percaya diri yang tumbuh dalam dirinya.


Buku Setitik Waktu, Sejuta Kenangan menunjukkan bahwa ketika anak diberikan kesempatan untuk mengalami dan kemudian diberikan ruang untuk mengungkapkan pengalamannya melalui tulisan, lahirlah sesuatu yang jauh lebih bermakna daripada sekadar tugas sekolah. Lahirlah karya. Lahirlah kenangan. Lahirlah kepercayaan diri. Dan yang paling penting, lahirlah sebuah pesan bahwa suara anak-anak layak didengar dan karya anak-anak layak dihargai.


Pada kesempatan ini, saya juga ingin menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Yayasan yang menaungi SDIT At-Taubah. Sebuah karya seperti ini tidak lahir secara tiba-tiba. Di balik keberanian anak-anak untuk menulis dan menerbitkan karya, terdapat ekosistem pendidikan yang memberikan ruang dan kepercayaan kepada mereka. Dukungan yayasan menjadi bagian penting dalam membangun budaya sekolah yang tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga memberikan kesempatan kepada anak untuk berkembang melalui pengalaman, kreativitas, kegiatan, dan karya.


Saya memberikan penghargaan kepada Kepala SDIT At-Taubah yang telah mengarahkan dan menjaga agar proses pendidikan di sekolah tidak kehilangan sentuhan kemanusiaannya. Anak-anak membutuhkan sekolah yang mampu melihat mereka bukan sekadar sebagai peserta didik, tetapi sebagai pribadi yang memiliki rasa ingin tahu, bakat, potensi, karakter, dan mimpi yang berbeda-beda. Dari buku ini saya melihat adanya upaya untuk menghadirkan pengalaman pendidikan yang beragam, sehingga anak-anak memiliki banyak cerita yang dapat mereka bawa pulang sebagai kenangan.


Penghargaan yang sama saya sampaikan kepada seluruh guru SDIT At-Taubah. Guru adalah orang-orang yang sering kali tidak terlihat dalam setiap halaman buku, tetapi sesungguhnya jejak mereka ada di hampir setiap cerita. Ketika anak-anak menulis tentang kegiatan sekolah, outbound, mukhayyam, study tour, perlombaan, pembelajaran, persahabatan, dan berbagai pengalaman lainnya, di balik kegiatan itu ada guru-guru yang merancang, mengarahkan, mendampingi, menjaga, mengingatkan, menyemangati, dan memastikan anak-anak dapat mengikuti proses tersebut dengan baik.


Guru mungkin tidak selalu ikut disebut dalam setiap cerita, tetapi guru hadir di balik tumbuhnya cerita itu sendiri.


Saya juga ingin memberikan apresiasi yang tulus kepada para orang tua dan keluarga siswa-siswi SDIT At-Taubah. Pendidikan anak tidak pernah menjadi pekerjaan sekolah semata. Ada tangan-tangan orang tua yang membangunkan anak di pagi hari, menyiapkan kebutuhan sekolah, mendengarkan cerita mereka sepulang sekolah, mendampingi ketika menghadapi kesulitan, memberi semangat ketika gagal, mengapresiasi ketika berhasil, dan terus menanamkan keyakinan bahwa belajar adalah bagian dari perjalanan hidup.


Dukungan orang tua inilah yang menjadi fondasi penting bagi tumbuh kembang anak. Ketika sekolah dan keluarga berjalan dalam arah yang sama, anak memperoleh lingkungan yang lebih kuat untuk berkembang. Buku ini pada akhirnya bukan hanya cermin keberhasilan anak-anak dalam menulis, tetapi juga menjadi cermin adanya kolaborasi antara yayasan, sekolah, guru, orang tua, dan anak dalam membangun sebuah proses pendidikan.


Dan di pusat dari semua itu adalah anak-anak.


Anak-anak yang menulis dengan tangan mereka sendiri. Anak-anak yang mungkin masih polos dalam memilih kata. Anak-anak yang mungkin masih harus belajar bagaimana menyusun cerita dengan lebih baik. Tetapi anak-anak yang telah melakukan sesuatu yang sangat penting: mereka telah meninggalkan jejak.


Saya merasa bangga membaca karya ini.


Bangga bukan karena semua tulisannya harus sempurna. Bangga karena anak-anak ini telah menunjukkan keberanian untuk berkarya. Bangga karena mereka memiliki begitu banyak pengalaman yang bermakna. Bangga karena sekolah memberikan ruang bagi mereka untuk bercerita. Bangga karena guru-guru mendampingi mereka. Bangga karena orang tua mendukung mereka. Dan bangga karena ada yayasan serta manajemen sekolah yang memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk memiliki pengalaman pendidikan yang begitu kaya.


Saya membayangkan suatu hari nanti, ketika anak-anak ini telah dewasa, mereka mungkin akan kembali bertemu dalam sebuah reuni. Mereka akan membawa buku ini. Mereka akan membuka halaman-halaman yang dahulu mereka tulis ketika masih kecil. Mereka akan mencari nama sendiri, membaca kembali cerita tentang sahabat, kelas, outbound, mukhayyam, study tour, perlombaan, guru, dan berbagai pengalaman yang pernah mereka jalani.


Mungkin mereka akan tertawa bersama.


Mungkin mereka akan saling bercerita, “Kamu ingat cerita ini?”


Dan pada saat itu, mereka akan menyadari bahwa ada sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar sebuah buku.


Mereka pernah tumbuh bersama.


Mereka pernah bermimpi bersama.


Mereka pernah belajar bersama.


Mereka pernah tertawa bersama.


Dan semua itu pernah mereka abadikan dalam sebuah buku.


Itulah sebabnya saya memandang Setitik Waktu, Sejuta Kenangan sebagai sebuah karya yang memiliki nilai pendidikan dan nilai kemanusiaan sekaligus. Buku ini mendokumentasikan masa kecil, tetapi pada saat yang sama sedang menanamkan sesuatu untuk masa depan. Ia menyimpan cerita hari ini untuk dibaca kembali oleh anak-anak itu pada masa yang akan datang.


Saya berharap karya ini tidak berhenti sebagai sebuah buku yang selesai dicetak dan disimpan di perpustakaan. Jadikan ia sebagai awal dari tradisi literasi yang lebih besar di SDIT At-Taubah. Biarkan anak-anak terus membaca, terus menulis, terus bertanya, terus mencoba, terus bereksplorasi, dan terus menghasilkan karya. Karena kemampuan menulis bukan hanya kemampuan menyusun kata. Menulis adalah kemampuan mengamati kehidupan, merasakan pengalaman, mengolah pikiran, kemudian menyampaikan makna kepada orang lain.


Dan saya percaya, anak yang sejak kecil dibiasakan untuk mengamati, berpikir, membaca, menulis, dan berkarya akan memiliki bekal penting untuk menghadapi dunia yang terus berubah.


Akhirnya, izinkan saya menyampaikan penghormatan dan apresiasi kepada seluruh keluarga besar SDIT At-Taubah Batam: kepada yayasan, kepala sekolah, para guru, tenaga kependidikan, para orang tua, dan terutama kepada seluruh siswa-siswi penulis yang telah menghadirkan karya ini.


Terima kasih telah mengizinkan saya memasuki dunia kalian melalui halaman-halaman buku ini.


Saya datang sebagai pembaca, tetapi setelah membacanya saya merasa seperti seorang tamu yang baru saja keluar dari sebuah pagelaran besar. Pagelaran yang panggungnya adalah sekolah, pemainnya adalah anak-anak, gurunya adalah para pendamping, orang tua adalah kekuatan di belakang layar, dan seluruh proses pendidikan menjadi harmoni yang menyatukan semuanya.


Buku ini mengajarkan kepada kita bahwa sebuah kenangan yang mungkin tampak kecil bagi orang dewasa dapat menjadi sesuatu yang sangat besar bagi seorang anak.


Setitik waktu dapat menjadi sejuta kenangan.


Dan sejuta kenangan itu, hari ini, telah menjelma menjadi sebuah karya.


Untuk anak-anak hebat SDIT At-Taubah, teruslah bermimpi. Teruslah belajar. Teruslah berkarya. Jangan takut menulis cerita kalian sendiri, karena suatu hari nanti kalian akan menyadari bahwa perjalanan menuju kesuksesan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar.


Kadang-kadang ia dimulai dari sebuah pengalaman kecil.


Dari sebuah keberanian.


Dari sebuah mimpi.


Dan bahkan mungkin, dari sebuah tulisan pertama yang dibuat oleh tangan kecil kalian hari ini.


Selamat atas lahirnya karya ini.


Selamat kepada seluruh keluarga besar SDIT At-Taubah.


Teruslah menyalakan cahaya pendidikan, karena dari tangan anak-anak hebat inilah masa depan Batam dan Indonesia akan tumbuh.

Label: