Ketua Dewan Pendidikan Kota Batam Ajak Ribuan Guru Berbagi Praktik Baik untuk Menciptakan Pembelajaran Menyenangkan dan Bermakna
Diposting pada September 17, 2026
BATAM , Ketua Dewan Pendidikan Kota Batam, Dr. Fendi Hidayat, S.T., M.Kom., mengajak para guru untuk memperkuat praktik pembelajaran yang berpusat pada siswa, membangun suasana kelas yang menyenangkan, serta menyesuaikan pendekatan mengajar dengan kebutuhan generasi di era digital.
Pesan tersebut disampaikan Fendi dalam materi bertajuk “Berbagi Praktik Baik dan Pengalaman Guru Lintas Mata Pelajaran: Ngobrolin Siswa, Kelas, dan Cara Mengajar yang Bikin Betah” di hadapan ribuan guru.
Dalam pemaparannya, Fendi menekankan bahwa tantangan pendidikan saat ini tidak hanya berkaitan dengan penyampaian materi pelajaran, tetapi juga kemampuan guru memahami karakter, kebutuhan, dan dinamika kehidupan siswa yang terus berubah.
“Guru masuk ke kelas membawa materi, sedangkan siswa masuk ke kelas membawa kehidupannya. Mereka memiliki pengalaman keluarga, lingkungan pergaulan, kebiasaan digital, dan persoalan yang berbeda-beda. Karena itu, memahami siswa menjadi bagian penting dari proses pembelajaran,” ujarnya.
Menurut Fendi, keberhasilan pembelajaran tidak cukup diukur dari selesainya materi yang direncanakan. Guru juga perlu memastikan bahwa siswa benar-benar memahami materi, mampu mengembangkan keterampilan, serta dapat menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia mengingatkan bahwa proses mengajar dan proses belajar merupakan dua hal yang saling berkaitan, tetapi tidak selalu berjalan bersamaan.
“Materi yang selesai diajarkan belum tentu menjadi pengetahuan yang berhasil dipelajari. Kita perlu melihat apakah siswa memahami apa yang dipelajari, mampu menjelaskan kembali, dan dapat menggunakannya untuk menyelesaikan persoalan,” jelasnya.
Memahami Siswa, Membangun Kelas yang Menyenangkan
Fendi juga mengajak para guru untuk tidak terburu-buru memberikan label kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar atau menunjukkan perilaku yang dianggap bermasalah.
Menurutnya, siswa yang pasif, kurang berpartisipasi, atau tidak menyelesaikan tugas perlu dipahami berdasarkan situasi yang melatarbelakanginya. Pendekatan tersebut dapat membantu guru menentukan langkah pembelajaran yang lebih tepat tanpa mengabaikan disiplin dan tanggung jawab siswa.
Ia menegaskan bahwa kelas yang membuat siswa betah bukan berarti kelas yang selalu ramai dengan permainan atau hiburan. Suasana belajar yang baik justru tercipta ketika siswa merasa aman untuk bertanya, memahami tujuan pembelajaran, memperoleh kesempatan untuk terlibat, dan merasakan kemajuan dalam proses belajarnya.
“Jangan hanya bertanya mengapa seorang anak malas belajar. Kita juga perlu bertanya, apa yang membuat anak tersebut tidak terlibat? Pertanyaan seperti ini membantu kita mengevaluasi pendekatan pembelajaran sekaligus memahami kebutuhan siswa,” ungkapnya.
Guru Lintas Mata Pelajaran Perlu Saling Belajar
Dalam kesempatan tersebut, Fendi menyoroti pentingnya berbagi pengalaman dan praktik baik antarguru lintas mata pelajaran. Menurutnya, guru Matematika, Bahasa Indonesia, IPA, IPS, Informatika, dan mata pelajaran lainnya mungkin menggunakan metode berbeda, tetapi semuanya memiliki tujuan yang sama, yaitu membantu siswa berkembang.
Ia menilai pengalaman seorang guru dalam membangun keterlibatan siswa, mengatasi kesulitan belajar, atau menghubungkan materi dengan persoalan nyata dapat menjadi sumber pembelajaran bagi guru lainnya.
Karena itu, forum berbagi praktik baik perlu diarahkan agar tidak sekadar menjadi tempat bertukar cerita, tetapi juga menghasilkan pendekatan yang dapat diterapkan dan dievaluasi bersama.
“Yang perlu kita cari bukan siapa guru yang paling hebat, melainkan praktik apa yang bisa kita pelajari dari pengalaman sesama guru. Keberhasilan perlu dibagikan, sementara pengalaman yang belum berhasil juga dapat menjadi bahan refleksi untuk memperbaiki pembelajaran,” katanya.
Fendi mendorong para guru menggunakan pola sederhana dalam berbagi pengalaman, yakni mengidentifikasi masalah, menjelaskan tindakan yang dilakukan, mengamati hasilnya, mengambil pelajaran, dan menilai kemungkinan penerapannya di kelas lain.
Menghadapi Tantangan Pembelajaran di Era AI
Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) turut menjadi perhatian dalam materi tersebut. Fendi berpandangan bahwa kehadiran AI perlu direspons melalui penyesuaian strategi pembelajaran, bukan hanya dengan melarang atau membatasi penggunaannya.
Menurutnya, guru perlu merancang tugas yang mendorong siswa berpikir kritis, memverifikasi informasi, membandingkan sumber, menyusun argumentasi, dan mempertanggungjawabkan hasil pekerjaannya.
Sebagai contoh, tugas yang semula hanya meminta siswa menulis esai dapat dikembangkan menjadi kegiatan menganalisis informasi dari AI, memeriksa keakuratan sumber, menemukan kekeliruan, dan menyusun kesimpulan berdasarkan penalaran sendiri.
“Pertanyaannya bukan semata-mata boleh atau tidak menggunakan AI. Kita perlu memastikan bagaimana teknologi tersebut digunakan untuk membantu belajar tanpa menggantikan proses berpikir siswa,” tegasnya.
Ia menambahkan, guru tidak harus menguasai seluruh teknologi terbaru, tetapi perlu terus belajar dan mengembangkan kemampuan menyesuaikan metode pembelajaran dengan perkembangan zaman.
Mendorong Perubahan dari Ruang Kelas
Sebagai Ketua Dewan Pendidikan Kota Batam, Fendi menilai peningkatan mutu pendidikan tidak hanya berkaitan dengan kurikulum, fasilitas, dan administrasi sekolah. Pengalaman belajar yang dirasakan siswa setiap hari juga harus menjadi perhatian utama.
Menurutnya, ruang kelas merupakan tempat kebijakan pendidikan diterapkan secara langsung. Kualitas interaksi antara guru dan siswa, relevansi materi, serta kesempatan siswa untuk aktif belajar menjadi bagian penting dalam membangun proses pendidikan yang bermakna.
Ia mengajak setiap guru memulai perubahan melalui langkah sederhana yang dapat langsung dicoba, seperti membuka pembelajaran dengan pertanyaan kontekstual, memberikan kesempatan kepada siswa untuk menjelaskan cara berpikirnya, atau melakukan refleksi singkat pada akhir pelajaran.
Fendi berharap kegiatan berbagi praktik baik dapat mendorong para guru membawa pulang gagasan konkret untuk diterapkan, diamati hasilnya, dan diperbaiki secara berkelanjutan.
“Tidak harus langsung mengubah semuanya. Mulailah dengan satu perubahan kecil yang bisa dicoba di kelas, kemudian amati hasilnya. Jika berhasil, kembangkan. Jika belum berhasil, evaluasi dan perbaiki,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa guru juga merupakan pembelajar yang perlu terus melakukan refleksi terhadap praktik mengajarnya.
Menurut Fendi, keberhasilan pendidikan pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak materi yang disampaikan, tetapi juga oleh sejauh mana siswa mengalami perkembangan dalam pengetahuan, keterampilan, sikap, dan kepercayaan dirinya.
“Kita mungkin mengajar mata pelajaran yang berbeda dan menggunakan metode yang berbeda. Namun, tujuan kita sama, yaitu membantu siswa belajar, bertumbuh, dan menemukan potensi terbaik dalam dirinya,” tutupnya.
