Pelatihan Calon Asesor Kompetensi BNSP Yang Menguras Emosi dan Pikiran

10.53
Sebelum kembali ke Hotel, aku sempatkan untuk menghubungi Arif, calon asesi yang akan membantuku saat simulasi asesmen nanti. Dari pesan yang ku kirim sedari tadi pagi, belum ada juga balasan darinya. Aku yakin dia pasti masih menikmati mimpi indahnya. Sebagai seorang programer seperti dia, pagi adalah waktu istirahat dan malam adalah waktunya untuk bekerja.

Dengan sedikit rasa kawatir dan gugup, aku bergegas menuju ke hotel. Disana semua peserta pelatihan asesor kompetensi sudah bersiap untuk proses asesmen. Pelatihan Calon Asesor BNSP Yang Berliku itupun memasuki tahap yang dinantikan, yaitu asesmen.

"Bang, sudah dimana ?" sebuah pesan masuk ke ponselku. Aku biarkan saja karena sedang memacu supra merahku menuju ke lokasi ujian.

Sekitar jam 11 siang aku sudah sampai di lokasi, dari balik pintu yang tertutup terlihat sekillas Bu Bibiana sedang menjalani proses asesmen. Raut serius dan judes sekilas terlihat dari wajah ibu master asesor.

Aku jadi teringat kejadian semalam sebelum kami istirahat malam. Seluruh peserta dan panitia panik setengah mati karena dokumen map biru milik Bu Bibiana tiba-tiba raib.

Tas dan kamar sebagian peserta digeledah, semuannya nihil. Kosong terlihat pandangan Bu Bibiana. Pasrah dengan apa yang dialaminya.

Hal terburuk jika dokumen dalam map biru itu tidak ditemukan, maka Bu Bibiana tidak akan bisa ikut asesmen. Padahal sebelumnya Bu Bibiana dijadwalkan ujian pagi, karena harus mengejar pesawat jam 1 siang untuk sebuah kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan.


"Serius bang ? Abang dimana sekarang ?" suara Pak Alex yang terdengar cukup keras merespon lawan bicaranya diujung sana. Entah apa yang sedang mereka bahas, tapi suaranya cukup membuat kami hening sesaat.

"Dokumennya ada di tas bang Arif, dia sebentar lagi kemari !" seru Pak Alex kepada kami, dengan penuh semangat.

Seisi ruangan pun berburu oksigen, serentak menghela nafas panjang dan berucap syukur atas ditemukannya dokumen yang sempat goib sesaat itu.

Ternyata tanpa diketahui, dokumen biru itu ada di tas Arif, calon asesiku dalam simulasi nanti.

Memang dari yang aku ingat posisi tas Arif ada di dekat bu Bibiana pada saat itu. Entah bagaimana kejadiannya, akhirnya dokumen biru yang berisi form pengajuan asesmen calon asesor kompetensi itu bisa berada dalam tas Arif.

Dari celah gorden terlihat Bu Bibiana sedang memberikan argumentasi atau menjawab pertanyaan Bu W*******, Master Asesor penguji.

Melihat prosesi asesmen itu, membuatku sedikit murka, kenapa aku dimasukkan ke dalam group kemarat ini. Sedangkan peserta yang dari kelompok TIK semuanya ada di group dua dengan master asesor penguji Pak JM.

Bukan maksutku menganggap Pak JM lebih mudah dibanding Bu W*******, cuman aku memang tidak terlalu pandai berdebat atau berargumen. Apalagi harus berargumen dengan ibu-ibu, sehingga posisi itu membuatku merasa kalut.

Titi dan Dina sedari tadi mondar mandir seperti setrikaan, sedangkan Dian sibuk memberikan arahan untuk peserta yang sedang bersiap melakukan asesmen. Luar biasa memang kegigihan panitia pelaksana. Kalau suatu saat kami menjadi orang sukses dari profesi ini, tentu jasa mereka akan selalu menjadi bagian dari cerita kesuksesan kami.

Ku rebahkan badanku di kasur kamar, setengah jam lagi waktu istirahat makan siang tiba. Sehingga masih ada waktu buatku untuk merecovery pikiran yang sebenarnya kalut.

"Bapak Ibu, check out jam 12 siang ini, kunci kamar silahkan nanti dikumpulkan ke panitia" isi pesan dari Titi ke group peserta pelatihan.

Tak terlalu ku hiraukan pesan itu, ku bolek balik badanku diatas ranjang single bed itu. Semakin kemana-mana isi kepalaku. Rasa gugup memang bisa menghancurkan semuanya, menghilangkan nalar sehat.

"Pak, aku sudah di lokasi ya" isi pesan dari Arif.

Aku sedikit lega dengan kabar teesebut. Setidaknya partner berjuangku sudah datang. Perang harus dijalani, urusan menang kalah biar Tuhan YME yang menentukan.

Setelah mengemas semua perlengkapan dan memastikan tidak ada lagi barang yang tertinggal di kamar aku bergegas menuju ke Restauran Hotel. Disana Arif sudah menunggu, disampingnya ada Taufan dan di depannya ada Pak Alex. Sepertinya mereka sedang reuni kecil-kecilan, karena sebelumnya mereka pernah bekerja sama dalam satu proyek pengembangan e-Goverment milik Pemerintah Kota Batam.

Ku ambil nasi dan lauk secukupnya, kemudian bergabung dalam kelompok diskusi mereka. Seperti orang pada umumnya ketika ngobrol sambil makan, maka pembahasannya pasti akan sangat random. Mulai dari diskusi tentang pengembangan aplikasi, trend teknologi terbaru, maka cerira tentang rivalitas Pilpres 2019 juga tak terlewatkan.

Obrolan kami ditutup dengan pembahasan tentang jodoh dan calon istri untuk Rafik. Itupun sebenarnya terpotong karena Dian menginformasikan bahwa proses asesmen akan segera dimulai dan seluruh peserta diharapkan hadir ke lantai satu.

Seuluruh peserta dari kelompok TIK sudah duduk rapi dan dokumen asesmen sudah dipersiapkan di meja. Aku hanya bisa celingukan saja, setengah senang karena akan ikut kelompok mereka.

Didepan kami Pak JM menjelaskan mekanisme asesmen dan dokumen yang dipersiapkan. Setelah itu, Pak JM mengajak peserta untuk membuat suatu kesepakatan terkait teknis asesmennya.

"Bang, silahkan disiapkandokumennya nanti abang sama Rafik di ruang sebelah dengan Bu W*******" isi pesan masuk dari Dian.

Sontak, rasa senangku tadi buyar. Ku ajak Rafik keluar ruangan dan menyiapkan dokumen untuk asesmen. Hanya kami berdua dari kelompom TIK yang terbuang ke kelompok MSDM. Entah apa pertimbangan panitia membuang kami berdu ke kelomok MSDM.

"Abang pasti bisa, gampanglah itu buat abang" jawab Dian saat kembali aku layangan protes.

Aku dan Rafik masuk ruang sekretariat sementara, disana sudah penuh peserta dari MSDM sedang menyiapkan dokumen.

"Kami semua revisi" celetuk salaah seorang ibu-ibu peserta pellatihan. Entah yang mana satu yang ngomong tadi, karena aku sendiri masih belum terima dengan perlakuan panitia.

"Siapa disini yang belum absensi dengan Bu W******* ?" seru Dian dari depan pintu.

Bergegas aku ke ruangan tempat Bu W** begitu beliau sering disapa. Niatku sebenarnnya untuk absensi. Namun Bu W** langsung memanggil namaku untuk dikoreksi.

Beberapa lembar dokumenku dicoret dan dilipat, beberapa juga ada yang dikonfirmasi kepadaku.

"Kamu pahamkan apa yang harus diperbaiki ?" Seru Bu W******* untuk memastikanku.

"Iya bu" jawabku singkat.

Setelah itu, tidak terlalu terpikirkan lagi olehku emosi atau ketidak sukaanku akan pembagian kelompok oleh panitia. Karena aku sudah dipusingkan dengan revisi dari hasil koreksi Bu W**.

"Enakan kelompok TIK, mereka tidak banyak koreksi" ujar Bu DW sambil mengerjakan revisiannya yang cukup banyak.

"Kami juga ada koreksi" seloroh Pak IB, salah satu peserta TIK yang sedang memperbaiki dokumen di sudut ruangan bersama asesinya. Nampak kerut di jidatnya yang menandakannya sedang berfikir keras untuk memperbaiki dokumennya.

"Aku kalau udah buntu, aku biarkan aja ini" ujar Pak STR di ujung meja sambil mengenggam lipatan dokumennya.

"Pak, lihat form MAPA 01 punya Bapak, kok aku banyak kali yang dicoret ya" minta Rafiq yang duduk disamping kananku.

"Bang, jangan dengerin sendiri lagunya" ujar Bu MR ke Rafiq yang sedang menyiapkan earphone untuk menikmati musik.

"Iya, biar gak suram kali kita" tambah mbak DW sambil membolak-balik dokumen.

Sejujurnya lagu yang diputar Rafiq malah menggangu konsentrasiku, kami memiliki perbedaan genre musik. Namun, itu tidak berlangsung lama karena playlist yang diputar Rafiq berikutnya akhirnya bisa ku nikmati.

Semuanya kalut, emosi, gugup semua bercampur. Ruangan berpendingin itupun berubah menjadi ruang sauna yang pengap. Kalau kami di IT memang kebanyakan (meskipun tidak semua) memiliki sistem kerja serampangan, jarang mikirin dokumen karena lebih ke teknis yang penting nyala dan jalan sistemnya. Berbeda dengan teman-teman di MSDM, toh begitupun mereka tetap kelabakan. Apalagi kami yang backgroundnya terbiasa ke teknis.


Setelah ku rapikan perbaikan dokumenku, Aku keluar untuk mencari Arif dan memintanya mengisi beberapa form yang akan digunakan untuk simulasi. Dari jauh ku perhatikan disana ada Pak BR yang sedang bolak-balik mengecek dokumen. Tak lama beliau masuk ke ruangan eksekusi.

Aku duduk di meja yang penuh dengan dokumen dan printer, ku bolak-balik isi dokumen dan memastikan kelengkapannya. Tak lupa aku meminta tanda tangan Dian, karena sesuai skenario Dian adalah admin LSP kami, meskipun dalam kenyataannya dia adalah bos kami semua.

Bu W******* membuka pintu, aku langsung berdiri dan menyerahkan segenap nasibku untuk dihabisi.

"Sudah siap ? Asesi ada ? " tanya Bu W**.

"Ada bu" jawabku singkat.

Bu W** mempersilahkan aku masuk ke ruang asesmen. Ku panggil Arif yang duduk diseberangku untuk ikut masuk. Kemudian kami siapkan perangkat yang diperlukan untuk simulasi.

Bu W******* mengecek kembali revisi yang sudah ku lakukan. Kemudian mempersilahkanku untuk melakukan simulasi.

"APA YANG BAPAK LAKUKAN ? DOKUMEN APA YANG BAPAK PEGANG ?" terdengar suara keras Bu W******* dari belakang. Mirip seperti Polisi sedang melakukan BAP, menghardik mengintimidasi melalui pertanyaan-pertanyaan.

Pak BR yang duduk di belakangku pun menjelaskan apa yang sudah beliau simulasikan. Beliau yang kessehariannya terlihat sangat kharismatik, lembut dan tenang hingga disegani oleh anggotanya di MSDM seperti mati kutu oleh intimidasi Bu W**.

Aku dan Arif masih meneruskan simulasi kami menjalankan peran masing-masing sesuai skenario.

"INI APA ? KAMU PEGANG APA ?" tanya Bu W** yang datang secara tiba-tiba disampingku, mengejutkan dan agak menyeramkan. Karena nada suaranya seperti emak-emak yang kehilangan Tupperware.

Setelah proses simulasi selesai kami lakukan, aku rapikan dokumen-dokumen yang telah ku isi selama proses simulasi asesmen. Ku urutkan satu persatu, agar mudah ditelusuri nanti.

"Apa lagi yang dikerjakan ? Sudah selesai (simulasi) asesmennya kan ?" tanya Bu W** di hadapanku, mirip seperti Depkolektor yang mau nagih hutang.

"Sudah bu" jawabku singkat.

"Ya sudah, silahkan keluar" ujarnya kepada Arif yang langsung diikutinya. Mirip seperti anak yang tak diinginkan lagi keberadaannya dirumah. Diusir begitu saja, mungkin Arif bertampang mirip anaknya yang sudah menghilangkan Tupperware kesayangannya. Entahlah. Yang pasti memang keberadaannya dalam ruangan itu sudah selesai. Jadi bisa keluar ruangan.

Tibalah waktunya aku yang di eksekusi. Entah kenapa Bu W** terlihat tidak terlalu menyeramkan seperti suara-suaranya yang keras tadi ke beberapa rekan peserta asesmen. Hanya satu pertanyaan yang diberikan kepadaku, setelah itu beliau memberikan beberapa nasehat.

"Jadi asesor itu harus sungguh-sungguh, karena pertanggungjawabannya itu dunia akhirat loh ya" pesan beliau kepadaku sambil membuka lembar yang harus aku tanda tangani.


Setelah semua dokumen aku tanda tangani, beliau memintaku untuk merapikannya lagi di meja sebelah. Tenang rasanya, semua ketakutan dan bayangan buruk diawal sirna. Tidak seperti yang aku kira, ternyata prosesnya biasa saja.

"KENAPA KAMU CORET-CORET ITU ?! KENAPA GAK KAMU SERAHKAN KE DIA ?" seru Bu W** ke peserta asesmen yang di meja sebelahku, meja yang tadi aku gunakan untuk asesmen.

"Tapi kemaren waktu kami belajar tidak masalah bu seperti ini" jawabnya.

Aku tidak terlalu jelas siapa itu, karena pandangan mataku sudah kabur. Yang jelas jawabannya membuat Bu W** semakin murka dan memintanya untuk mengulangi lagi simulasi asesmen.

Untuk beberapa saat, ruang lantai satu Hotel menjadi pengap, beberapa peserta bolak-balik sambil ngomel-ngomel kesel. Diruang sekretariat ada Bu MR yang sedang membolak-balik dokumen sambil meluapkan kekesalannya.

"Pokoknya kecewa saya, apa yang diajarkan master asesor kemaren tidak sesuai dengan ibu ini" keluhnya sambil membolak-balik dokumen.

Oh ternyata tadi Bu MR yang beradu argumen cukup keras dengan master asesor penguji.

Pak RK duduk di pojok ruangan sambil mempersiapkan partner simulasinya. Didepannya ada Bu YN yang sedang membagikan pengalamannya saat asesmen tadi.

Pak RK sesekali mengangguk dan mengajukan beberapa pertanyaan. Kalau saya perhatikan sebenarnya beliau hanya mencoba meredakan rasa gugup. Sambil menunggu waktu eksekusi. Pasrah.

"Lebih gampang lagi Desertasi daripada asesmen asesor ini" keluh Pak STR lagi.

Selain sebagai praktisi MSDM, beliau memang salah satu Dosen yang telah menyelesaikan program Doktoralnya.

"Ini cuma lima hari kita diajari, langsung diuji, kalang kabutlah" serunya lagi yang kelihatan sangat kesal dengan rangkaian proses asesmen calon asesor ini.

Waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore, alarm adzan magrib sudah berbunyi. Keriuhan yang tadi membuat ruangan menjadi pengap kini menjadi sunyi, suhu dingin kian menggit, menembus kulit.

Pak Riko dan Pak STR masih di dalam ruang eksekusi. Tinggal mereka berdua yang masih menjalani proses asesmen.

"Apapun hasilnya, terima sajalah, yang penting sudah melewati prosesnya, mudah-mudahab tidak mengecewakan" ujar Bu DW yang juga kami amini bersama-sama.

Sambil menunggu seluruh peserta selesai melaksanakan proses asesmen, aku rebahkan badanku di kursi sofa yang ada di lobi lantai satu.

Hanya ada aku, Titi dan Dian. Tak lama Pak JM ikut duduk bersama kami di lobi sofa.

"Dari mane aje J** ?" tanya Bu W** ke Pak JM setelah beberapa saat menyelesaikan rekapan dokumen asesmen kami.

"Tadi keliling Mall Nagoya, itu pas di belakang Hotel" jawabnya sambil menunjuk ke arah Nagoya Hill Hotel.

Memang lokasi Hotel tempat kegiatan kami persis di depan Nagoya Hill Mall.

"Mau makan apa bu ?" Tanya Dian ke Bu W**.

"Lu mau makan apa J** ?" Tanya Bu W** ke Pak J** lagi.

"Aku sudah makan tadi" jawab Pak J**.

"Ikan ada gak ikan ?" Tanya Bu W** ke Dian

"Sop Ikan di hotel ini enak lho bu" jawabku setelah melihat Dian agak kebingungan.

"Kalau ikan bakar ada gak ?" Tanya Bu W** lagi.

"Ada bu, kalau ikan bakar harus keluar bu" jawabku lagi

"Iya bu, di sekitar hotel ini ada banyak pilihan, ibu bisa pilih sesuai selera" tambah Dian.

"Ayoklah J**" sahut Bu W** sambil mengajak Pak JM bergegas.

Aku, Titi dan Dian menemani Bu W** dan Pak J** untuk mencari santap malam. Menyisir jalan Nahoya yang dipenuhi pedagang makanan yang menjajakan berbagai menu masakan, mulai dari sate hingga hidangan aneka biota laut yang menjadi ciri khas Kota Batam.

"APA KAU ? SINI KALAU BERANI, BETUMBUK" teriak salah seorang pelayan kepada Bapak-bapak yang kemudian dipisah rekannya sesama pelayan.

"Orang mau lewat malah ngalangin jalan" gerutu Bapak itu.

"Kaupun, udah tau dia kayak gitu diganggu aja, udah tua pun masih cari masalah" jawab Koko kasir yang sepertinya bos pemilik toko dengan kesal

Tempat makan yang kami pilih tidak begitu luas, namun ramai pembeli. Aku agak penasaran dengan olahan makanannya.

Aroma gurih menyeruak, menjajah hidung kami. Seorang wanita paruh baya terlihat sedang membolak balikkan masakan di kuali. Dari aromanya seperinya dia sedang memasak kangkung bumbu belacan.

Sambil menunggu makanan yang kami pesan dihidangkan, sesekali Pak J** dan Bu W** saling bertukar cerita kepada kami. Bagi Bu W**, ini bukan kali pertama beliau ke Batam, karena sebelumnya juga sudah pernah ke Batam untuj mengisi materi. Sedangkan bagi Pak J**, ini juga bukan kali pertama ke Batam, karena dulu saat masih di dunia otomotif beberapa kali beliau ke Batam untuk membeli suku cadang mobil.

Pada era 90 sampai pada awal 2000an Kota Batam memang menjadi tempat pembuangan mobil-mobil bekas Singapura. Infonya, kalau di Singapura itu semakin tua mobilnya maka semakin besar nilai pajak yang harus dibayarkan. Maka bagi penduduk Singapura, mereka lebih memilih membeli mobil baru daripada mengoleksi mobil-mobil lawas.

Sehingga, Batam adalah tempat pembuangan yang tepat. Secara fungsional, mobil-mobil itu masih berkerja dengan baik, hanya sudah cukup tua. Begitu sih cerita yang aku dapat dari rumor-rumor yang berkembang.

Entah benar atau salah aku juga tidak terlalu peduli, bagiku saat ini adalah cepat pulang dan istirahat. Setelah lima hari yang menguras otak, dan emosi rasanya aku sudah seperti zombie.

Sepiring nasi ku lahap dengan lauk ikan bakar dan sayur kangkung blacan, rasanya nikmat sekali. Paduan sambalnya juga lezat, pas untuk menambah tenaga yang tinggal sisa-sisa.

Pak J** sibuk memisahkan bumbu pedas dan daging ikan. Ternyata Pak J** tidak bisa makan masakan pedas.

"Kemaren pernah makan ayam balado, eh ayamnya dicuci dulu" seloroh Bu W** saat menceritakan pengalamannya saat makan bersama Pak J** entah di daerah mana.

"Aku sudah belajar mbak, cuma memang gak tahan ini perut" ucap Pak J** ke Dian mencoba mengkonfirmasi ke Pak J**.

"Manis ini loh bu" ujar Pak J** ke Bu W** sambil mengorek daging gongong yang dipegangnya.

"Enak sih cuma kolesterol J**" balas Bu W** sambil menggelengkan kepala tanda tidak mau.

Setelah ritual makan malam selesai, kami bergegas kembali ke Hotel.

"Ada acara penutupan juga ya ?" tanya Bu W** ke Dian.

"Iya bu, Pak Halim dan temen-temen peserta sudah menunggu diatas" jawab Dian lembut.

Benar, ketika kami masuk ke ruangan seluruh peserta sudah duduk ditempatnya masing-masing. Kecuali Bu Bibiana yang berangkat tadi siang dan Rafiq.


Setelah pelaksanaan asesmen tadi sore, Rafiq memang buru-buru pulang karena sejatinya ia sedang berduka. Info yang aku dapatkan, neneknya meninggal siang jam 2. Artinya kabar duka itu datang saat Rafiq sedang menyiapkan dokumen asesmen tadi. Luar biasa besar jiwa anak ini pikirku, mungkin kalau aku diposisinya pasti makin kalut.

Terselip Do'a untuk almarhumah Nenek Rafiq, Semoga almarhummah mendapatkan tempat terindah di sisiNYA. amiinnn

Rangkaian acara penutupan dimulai, Titi mengambil microphone untuk memandu acara. Acara berjalan sangat runut sesuai susunan rencana acara penutupan.

Sebenarnta, aku merasa ada yang janggal, dari awal pembukaan dan penutupan tidak ada prosesi menyanyikan lagu Indonesia Raya. Padahal ini kegiatan yang bersumber dari anggaran negara. Rada janggal menurutku, mungkin panitia kelupaan, atau memang sengaja meniadakan, atau tidak ada dirigen yang bisa memandu. Entahlah, hanya panitia yang lebih tahu.

Acara penutupan berjalan sangat hidmat dan cair. Kami bersama-sama sebagai seorang keluarga, partner. Tidak ada lagi sekat seperti siang tadi, Bu W** yang ganas tadi siang, kini berbeda jauh. Benar-benar berbeda, sepertinya tadi siang itu hanya menjalankan tugas, mengikuti prosedur. Dan malam ini beliau menjadi pribadi aslinya yang enak diajak bercanda dan berbagi cerita.

Sebuah drama panjang yang berakhir manis. Aku tidak tahu bagaimana hasilnya, cuma info yang beredar aku dinyatakan kompeten, entahlah. Aku sendiri tidak tahu hasil asesmen yang aku lewati tadi, apalagi hasil dari pesert yang lain, aku makin tidak tahu, karena memang prinsip asesmen adalah rahasia artinya hasilnya hanya boleh diberitahukan kepada peserta itu sendiri.


Malam itu kegiatan diakhiri dengan foto bersama. Kemudian peserta bubar satu persatu menuju tempat tinggal masing-masing.

Aku bergegas ke ruang sekretariat di lantai satu, karena barang-barangku sebagian masih disana. Alhamdulilkah, pintjnya belum dikunci gumamku.

Segera kuambil barang-barang yang bisa ku bawa, barang-barang yang besar seperti printer ku titipkan ke Titi agar dibawa ke kantornya. Setelah memastikan bahwa tidak ada barang yang tertinggal, aku langsung menuju ke parkiran tempat supra merah agak butut terparkir.

Selesai sudah drama pelatihan asesor kompetensi BNSP yang menghabiskan waktu hampir satu minggu. Segala dendam yang pernah memuncak diubun-ubun telah sirna.

Benar apa yang Dian katakan padaku kemaren dan tadi sebelum asesmen, semua bisa aku lewati dengan baik. Memang saat itu aku sedang emosi dan panik saja. Makanya semua terlihat salah dan tidak ada hal positif yang terlihat.

Kini semua itu berganti menjadi harapan. Semoga pelatihan yang melelahkan jiwa dan raga ini tidak berakhir sia-sia.

"Jangan sampai kita punya lisensi untuk mengendarai bus, akan tetapi penumpang tidak ada yang bisa naik ke bus, karena tangga untuk penumpang yang ketinggian" gumamku dalam hati.

Entah sampai kapan perjalanan ini bermuara, tapi bolehlah untuk sejenak aku beristirahat. Mendinginkan pikiran, dan menikmati setiap tetes hujan yang dikirim Tuhan.

Terima kasih untuk Dian, Titi dan Dina yang sudah pontang panting memenuhi semua kebutuhan kami sebagai peserta selama pelatihan. Terima kasih untuk tim LSP Digital TIK dan Pemko Batam melalu Disnaker Kota Batam. Terima kasih untuk rekan-rekan seperjuangan yang senantiasa berjuang bersama-sama selama sepekan demi satu tujuan ikut serta menyiapkan SDM unggul dan calon-calon tenaga kerja yang berkompeten.


Ku baca ulang tulisan ini dari atas sampai bawah, untuk memastikan tidak ada hal yang terlewatkan, rasanya sudah cukup menurutku. Meskipun ada beberapa bagian yang memang tidak bisa secara utuh aku ceritakan.

Oleh karena itu supaya emosi anda tidak semakin memuncak karena membaca cerita tak bermutu ini. Maka, ada baiknya segera aku sudahi saja cerita ini. Mudah-mudahan kisah yang terjadi dalam cerita pelatihan calon asesor kompetensi BNSP ini bisa diambil hikmahnya. Sampai jumpa di artikel atau cerita yang lain dalam blog ini.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.