Gak Penting Menggunakan Hak Pilih di Pemilu Jika Korupsi Makin Subur ?

12.03
Tahun depan adalah tahun yang akan menjadi bagian dari sejarah baru Indonesia, karena tahun depan adalah tahun dimana akan menyelenggarakan Pesta Demokrasi atau yang familiar disebut dengan Pemilihan Umum (Pemilu). Sedangkan 2018 adalah tahun pemanasan mesin bagi Partai Politik dan bagi penyelenggara Pemilu seperti KPU atau Bawaslu tahun ini adalah tahun pelaksanaan tahapan Pemilu 2019. Salah satu yang sedang getol disosialisasikan adalah ajakan untuk menggunakan hak pilih di pemilu.

Sosialisasi Pemilu dan ajakan menggunakan hak pilih di pemilu gencar dilakukan tidak hanya oleh penyelenggara Pemilu atau Parpol selaki peserta Pemilu. Sosialisasi juga dilakukan oleh Pemerintah melalui dinas-dinas terkait, tujuannya adalah agar pada hari pemungutan suara nanti seluruh rakyat menggunakan hak pilihnya untuk memilih pemimpin dan wakil rakyat yang nantinya bertugas utk menjalankan Pemerintahan demi tercapainya kesejahteraan rakyat.

Gencarnya ajakan untuk menggunakan hak pilih di Pemilu seolah menjadi anomali


Karena masa kampanye adalah masa dimana semua calon sibuk mengumbar janji manis. Janji yang sangat sulit terlihat jika jabatan itu sudah meraka emban. Maka tidak heran jika akhirnya rakyat menjadi bosan dengan Pemilu. Karena nasibnya tidak berubah, justru Korupsi makin mewabah.

Sumber : http://beritanow.co

Hiruk pikuk di dunia maya juga tidak kalah menjengkelkannya. Keberagaman Indonesia yang dianugerahi Tuhan dengan berbagai suku bangsa, bahkan Indonesia yang merupakan Negara dengan warisan bahasa terbanyak di Dunia kini seolah tinggal menjadi dua Suku saja, yaitu Suku Kampret dan Suku Kecebong. Bahkan kita tidak diperbolehkan mengambil posisi netral.

Jika mengambil posisi Netral maka anda harus bersiap akan mendapatkan label Kampret oleh para Cebongers, begitu juga sebaliknya kalau anda akan mendapatkan label Cebong oleh para kampreters. Mereka yang melabeli kita yang mengambil posisi netral. Begitu sempitnya suku bangsa kita hari ini, hanya karena Pemilu.

Lalu apakah sikap melabeli seperti ini akan meningkatkan minat masyarakat untuk menggunakan hak pilih di Pemilu ?

Pengguna Hak Pilih di tiap pemilu semenjak kita keluar dari cengkraman otoritarian jumlahnya selalu mengalami penurunan. Bahkan Pemilu terakhir itu hanya sekitar 70% saja yang menggunakan hak pilihnya.

Sejatinya Pemilu harusnya menjadi Pesta Demokrasi yang membuat seluruh masyarakat ingin mengikutinya. Dengan ulah para oknum militan membuat Pesta Demokrasi menjadi perang kata yang membosankan dan menjengkelkan.

Masyarakat yang mulai jenuh dengan Pemilu karena tidak merasakan dampak berarti dari setiap calon terpilih, kini disuguhkan dengan perang cacian dari kedua suku baru tadi. Maka semakin muaklah rakyat yang sedari dulu sudah jenuh. Maka hak pilih dalam Pemilu bisa jadi menjadi sebuah dialektika yang tidak harus dilakukan. Sebuah narasi semu yang tak berguna.

Sehingga pergi ke Pantai dan berlibur akan menjadi pilihan utama bagi sebagian orang yang jengah dengan sandiwara politik di Indonesia.

Meskipun begitu, saya sendiri berharap agar kawan-kawan tetap menggunakan hak pilih di pemilu nanti. Apapun pilihan kawan-kawan saya akan hormati, yang penting jangan cuma memilih untuk  berlibur saja.

Karena suara kita akan menentukan nasib bangsa kita 5 (lima) tahun ke depan. Banyaknya kasus korupsi itu bisa jadi karena banyaknya yang tidak menggunakan hak suaranya sehingga memberikan jalan yang mulus bagi orang-orang yang tidak amanah. Meskipun begitu banyak juga orang-orang baik yang dihasilkan dari proses Pemilihan langsung seperti yang selama ini dijalankan di Indonesia.

Selamat menggunakan hak pilih di Pemilu 2019 nanti, semoga menghasilkan Pemimpin dan Wakil Rakyat yang amanah dan mampu membawa kesejahteraan serta kemajuan bagi masyarakat dan Negara Indonesia.

Jadi, sudah siapkah anda menggunakan hak pilih di Pemilu 2019 ?

6 komentar:

  1. Udah mau Pilpres aja nanti 2019.
    Entah itu ganti presiden atau tidak, semoga pesta demokrasi kita berjalan lancar dan baik...

    BalasHapus
  2. Siapapun nanti yang jadi presidennya dan menteri-menterinya tetap kita dukung karena dialah yang terpilih. Suka atau tidak suka. Rela atau terpaksa. Hidup hanya sebentar, daripada saling menghujat dengan sebutan cebong kampret halah menghabiskan energi saja ya Om.

    BalasHapus
  3. hak pilih wajib digunakan bukan untuk mencari pemimpin terbaik tapi menghindari pemimpin terburuk

    BalasHapus
  4. Ehmmm memang sulit untuk mencari figure ideal yg gak korup... Negara kita so complecated but boycott general election is not the solution.. �� .

    BalasHapus
  5. Kesadaran akan pentingnya hak pilih ini mmg hrs banyak disosialisasikan.
    mmg sih kdg krn kecewa banyak masy yg malas lg milih.
    tp sbg warga negara yg baik hrs gunakan hak pilih..jgn patah semangat..pilihlah yg terbaik

    BalasHapus
  6. Suka judulnya coi, kadang suka golput neh karena ga di tempat gak dapat kertas haha

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.